Mengenai Saya

Foto saya
Jangan Pernah melihat kekurangan orang lain,tapi lihatlah kekurangan kita.jangan pernah melihat kelebihan kita.tapi lihatlah kelebihan orang lain...

Minggu, 23 Maret 2014

Tipologi Sintaksis Bahasa Telitian



TIPOLOGI SINTAKSIS BAHASA TELITIAN
Dosen Pengampu: Ermawati S.,S.Pd.,M.A



 


uirlo




Di Susun Oleh:

VIVIN HERLINA
116211053



PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014






ANALISIS BAHASA KOREA
1. Aku  Cinta  Kamu                                               Naneun  Neoreul  Saranghae                                         S       P      O                                                          S              O                P
2. Aku Makan Ramen                                             Naneun Ramyeon  Meogeoyo                                   S        P        O                                                            S         O              P
3. Saya Memasak Ayam                                  Naneun Chikineul Yorihaeyo                                       S         P             O                                           S           O             P
4. Saya Sangat Menyukaimu                               Naneun Neomu Joahaeyo                                           S       P               O                                               S             O             P
5. Saya Menyukai  Superjunior                        Neneun Syupeojunior  Joahae                                   S            P               O                                    S                  O                 P                             
6. Aku Rindu Kamu                                             Naneun Neoreul Bogosshipeo                                   S        P         O                                                    S           O                  P   


Sumber: Http://Hangugo.wordpress.com/





ANALISIS BAHASA THAILAN

1.       CHUN D Y AHN NUNGS E U                          Saya  membaca buku
ฉัน ได้ อ่าน หนังสือ                           S      P        O

2.       Jan Rak De                                                          Aku    Cinta  kamu
S        P         O

3.      Jan deng de                                                       Aku   Rindu   Kamu
 S           P           O

4.      Chan Put Phasa Indonisia Dai                      Saya  Berbicara  Bahasa Indonesia
  S           P                   O

5.      Jan Ca Pai Non                                                   Saya   Pergi    Tidur
  S            P             O

6.  Jan Se Song Ban                                                    Saya   Beli   Rumah                                                                                                                                             S         P          O

7.  Jan Gao Cai Mai Kha                                            Aku    Tidak   Mengerti                                                                                                                      S          P                O

8. khun Ca Pai ban                                                     Bapak  Beli  Rumah                                                                                                                             S              P             O

9. kin khaw lu yang                                                    Adik   Sudah Makan   Nasi                                                                                                                               S            P                             O

10. Cece im leaw kee                                                               Kakak   Sudah Makan     Ayam                                                                                                                    S              P                             O
 

Rabu, 05 Maret 2014

METAFORA DAN PERUMPAMAAN (STUDI ANALISIS DALAM TEKS PIDATO BIDANG PENDIDIKAN GUBERNUR RIAU PERIODE 2008-2013).

METAFORA DAN PERUMPAMAAN (STUDI ANALISIS DALAM TEKS PIDATO BIDANG PENDIDIKAN GUBERNUR RIAU PERIODE 2008-2013).

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang dan masalah
1.1.1        Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi antaraanggota masyarakat berupa bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa tersebut digunakan anggota masyarakat untuk memperlancar aktivitas yang dilakukan. Kalau bahasa tidak ada, tentu bisa menghemat aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, bahasa memegang peraran pentik dalam berbagai aktivitas kehidupan manusia.
Bahasa sangat diperlukan berkomunikasi. Seandainya hidup tanpa bahasa tentu akan kaku, karena dengan bahasa aan menyatukan antaranggota satu dengan yang lainnya. Disimpulkan bahwa alat berkomunikasi antaranggota masyarakat yang berupa bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dinamakan dengan bahasa. Menurut Depdiknas (1997:77) “Bahasa adalah system lambing bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; percakapan (perkataan) yang baik; tingkah laku baik; sopan santun.”
Salah satu aspek berbicara adalah pidato. Pidato dapat dijadikan pedoman dalam penguasaan bahasa. Tentunya penguasaan bahasa pidato tidak terlepas dari arti/maksud pidato, tingkat variasi bahasa pidato, dan tujuan teks pidato tertentu. Bagian dari hal-hal yang diharusan di atas, tentu ditekan juga pada penyampaian teks pidato yang dilakukan secara jelas, terarah, dan sesuai dengan pesan pidato yang diinginkan.
Informasi bahasa teks pidato tidak sekedar mementingkan pidato yang bersifat meyakinkan dan membujuk, melainkan harus menjadi pidato yang baik. Dapat digarisbawahi bahwa pidato mengembangkan kemampuan berbahasa dengan menampilkan pidato dalam bentuk teks. Menurut Bormann (1991:137), “Orang-orang tertentu mencoba meyakinkan diri bahwa nereka tidak akan lupa dengan menulis semua pidato dan membacanya. Sewaktu-waktu pembicara memang memerlukan naskah tertulis karena alas an tertentu untuk menambah kepastian bahwa mereka tak akan lupa apa yang ingin dikatakan”.
Pidato itu terbentuk dikarenakan adanya retorika. Menurut Suhandang (2009:25), “Istilah Retorika dapat ditemukan dalam perbendaharaan kata bahasa Inggris dengan kata rhetoric yang berarti kepandaian berbicara atau pidato.” Dapat disimpulkan terbentunya pidato adanya kemampuan berbicara yang bisa disebut dengan retorika. Jadi, seseorang pandai berbicara berarti mempunyai kemampuan retorika. Tetapi retorika itu tidak bisa dikatakan sama dengan berbicara. Sebab, berbicara merupaan ungkapan pemikiran yang lebih menekankan pada berkata-kata atau bercakap-cakap, sedangkan retorika itu menekankan pada eterampilan dalam berbahasa. Kesimpulannya  bahwa berbicara dengan retorika saling mempengaruhi atau berkaitan.
Keterampilan bahasa terbagi beberapa bagian. Menurut Tarigan (1981:1), “Keterampilan bahasa mempunyai empat komponen yaitu: (a) keterampilan menyimak (listening skills), (b)keterampilan berbicara (speaking skills), (c) keterampilan membaca (reading skills), (d) keterampilan menulis (writing skills).” Keterampilan berbahasa bisa dilakukan dengan cara berpidato,diskusi, debat, seminar, dan lainnya.
Berbicara sangat diperlukan karena di mana pun ita berada selalu dituntut berbicara. Salah keterampilan berpidato ini dapat dikelompokan ke dalam komponen aspek berbicara dengan dengan tujuan penyampaian informasi kepada khalayakk ramai/masyarakat luas. Selain itu, berpatokan juga pada objek,situasi, dan berbicara khususnya pengusaan bahasa lisan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Harahap, dkk. (2006:2)
Di dalam kehidupan sehari-hari, berbicara merupakan keterampilan yang paling sering kita lakukan dibandingkan keterampilan lainnya. Apa pun pekerjaan seorang mesti dituntut berbicara. Di manapun seseorang pasti ia berbicara dengan orang lain. Seorang guru mesti bicara pada anak didiknya. Pedagang harus berbicara pada pembelinya. Pengacara mesti pandai berbicara membela kliennya. Atasan wajib bicara pada bawahan. Pendek kata, apa pun profesi dan di manapun kita berada, harus berbicara kepada orang lain.
Bahasa yang diucapkan selalu berhubungan dengan makna kata yang telah diucapkan. Setiap makna kata  harus adanya tanda atau bunyi bahasa itu. Tuturan yang diucapkan harus mempunyai arti agar bisa dimengerti dan  sebaliknya para pengguna bahasa dalam bertutur satu sama lain tidak saling mengerti baik makna maupun kata. Maka, akan meyebutkan tuturan berbahasa ini tidak berjalan secara komunikatif.
Tarigan (1985:7) menyatakan,
            Secara etimologis kata semantik berasal dari bahasa Yunani semantic’ penting; berarti’, yang diturunkan pula dari semainein ‘memperlihatkan; menyatakan’ yang berasal pula dari sema ‘tanda’ seperti yang terdapat pada kata semaphore yang berarti “tiang sinyal yang digunakan sebagai tanda oleh kereta api.’ Semantik menelaah serta menggarap makna kata dan makna-makna yang diperoleh oleh masyarakat dari kata-kata.

Berdasarkan fenomena yang terjadi, terlihat dari perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan bidang lainnya. Sebaiknya kita sebagai bangsa Indonesia harus menyaring bahasa yang masuk Indonesia sehingga tidak mempengaruhi bahasa Indonesia iru sendiri. Kemudian, dalam memberikan informasi dengan istilah harus sesuai dengan fenomena yang terjadi.
 Sejalan dengan itu, Bormann (1991:161) mengemukakan,
Anda harus merasa pasti bahwa baik anda maupun pendengar anda mengerti apakah istilah-istilah yang didefenisikan itu ada dalam kenyataan yang dapat diobservasi dan yang defenisinya dapat diuji atau merupakan nama-nama orang atau peristiwa dalam mitos atau nama-nama konsep yang abstrak.
Secara umum, pidato yang tersedia di kantor Gubernur Riau yaitu pidato bidang keagamaan, pariwisata, dan penididkan. Jadi penulis mengambil khusus pidato bidang pendidikan. Pidato bidang pendidikan Gubernur Riau itu merupakan pidato yang bersifat kenegaraan dalam ruang lingkup formal, pidato yang biasanya pidato itu diifomasikan pada pendidikan maupun masyarakat luas. Oleh karena itu,  pidato Gubernur Riau mengunakan bahasa sederhana supaya dimengerti oleh khayalan ramai. Pidatu Gubernur Riau dibuat oleh team bagian pidato di Hubungan Masyarakat Sekretaris Daerah Provinsi Riau.
Pidato pendidikan secara bahasa menggunakan metafora dan perumpamaan. Karena kata-kata itu digunakan untuk memperindah teks pidato dan tidak memnggubah maksud / pesan pidato yang disampaikan. Maka, dilihat dari segi mamfaat pidato itu dapat dijadikan renungan dalam kehidupan bermasyarakat.
            Melihat fenomena dilapangan, sebagian orang belum bisa menentukan dan membedakan mana metafora dan perumpamaan. Penjelasaan di atas dijelaskan berdasarkan contoh dibawah ini :
                        Bibirmu seksi ibarat buah delima
                        Bibirmu seksi termasuk metafora antropomorfis
                        Bibirmu seksi ibarat delima termasuk perumpamaan (menggunakan penanda ibarat)
            Menentukan yang dimaksud itu ialah diberikan berbentuk contoh, jika ditentukan mana metafora dan perumpamaan, secara umum tentu mengatakan bibirmu seksi ibarat buah delima termasuk gaya bahasa perumpamaan dan metafora hal itu benar adanya karena sama-sama membandingkan sesuatu hal. Dilihat lebih mendalam dari kalimat tersebut ternya salah. Pernyataan yang benar yaitu bibirmu seksi ibarat buah delima termasuk perumpamaan dengan alasan membandingkan dua hal yang sengaja dianggap sama dengan menggunakan kata penanda ibarat.
            Membedakan yang dimaksud itu ialah diberikan berbentuk contoh, jika dibedakan mana metafora dan perumpamaan, secara umum tentu menggatakan bibirmu seksi ibarat buah delima termasuk gaya bahasa perumpamaan dan metafora hal itu benar adanya karna sama-sama membandingkan sesuatu hal. Dilihat lebih mendalam dari kalimat tersebut ternyata salah. Pernyataan yang benar yaitu bibirmu seksi ibarat buah delima termasukn perumpamaan dengan alasan menggunakan penanda ibarat dengan membandingkan dua hal yang segaja dianggap sama dan bibirmu seksi termasuk metafora antroformorfis dengan alasan bentuknya singkat dan mengandung arti tidak sebenarnya dengan membandingkan sesuatu berhubungan dengan diri manusia.
            Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik mengkaji “ metafora dan perumpamaan ( Study Analisis dalam Teks Pidato Bidang Pendidikan Gubernur Riau Periode 2008-2013 ) “ dengan alasan sulitnya sebagian orang menentukan dan membedakan mana makna metafora dan perumpamaan dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau.
            Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan terdahulu, penelitian menngenai metafora dan perumpamaan dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau yang penulis lakukan ini termasuk penelitian yang berbeda dan baru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau yaitu penelitian dikantor Gubernur Riau. Yang berupa teks pidato pedidikan Gubernur Riau periode 2008-2013. Perbedaan tersebut dilihat dari masalah penelitian,objek penelitian, dan tenik penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini. Masalah penelitian mengenai apa sajakah metafora, perumpamaan, dan tema dalam teks pidato Gubernur Riau periode 2008-2013, objek penelitian berupa teks pidato bidang pendidikan Gubernur Riau periode 2008-2013,  sedangkan teknik yang digunakan yaitu teknik hermeneotik.
     Penelitian metafora dan perumpamaan dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau periode 2008-2013, sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan oleh penulis lain dan ini merupakan penelitian pertama. Namun penelitian sejenis pernah dilakukan.
     Pertama, Iwan Saepudin mahasiswa FKIP UIR tahun 2004 dengan judul “ nilai-nilai gaya bahasa yang terkandung dalam Nazam Nabi Muhammad Lahir di Desa Pulau Gadang Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar”. Penelitian Iwan Saepudin mengkaji dua masalah, yaitu nilai-nilai apa sajakah yang terkandung di dalam Nazam Nabi Muhammad  Lahir di Desa Pulau Gadang Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar, dan gaya bahasa apa sajakah yang digunakan dalam Nazam Nabi Muhammad Lahir di Desa Pulau Gadang Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar. Teori yang digunakan yaitu teori dari Hamidi (1993), Tarigan (1982), Gaffar (1973) sedangkan penelitian Iwan Saepudin menggunaan metode deskriptif. Hasil dari penelitian Iwan Saepudin yaitu Nazam Nabi Muhammad Lahir di Desa Pulau Gadang Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar mengandung beberapa nilai diantaranya nilai-nilai agama islam, nilai pendidikan, nilai sosial, dan nilai budaya. Nazam Nabi Muhammad mengandung beberapa gaya bahasa yaitu gaya bahasa personifikasi, gaya bahasa deferpesonifikasi, gaya bahasa hiperbola, gaya bahasa metafora, gaya bahasa perumpamaan, gaya bahasa antonomasia, gaya bahasa anas trof(inverse), dan gaya bahasa alegori. Persamaan peneelitian penulis dengan penelitian Iwan Saepudin yaitu sama-sama membicarakan masalah gaya bahasa. Penelitian Iwan Saepudin gaya bahasa yang dibahas mengenai ”nilai-nilai dan gaya bahasa yang tergantung dalam Nazam Nabi Muhammad Lahir di Desa Pulau Gadang Kecamatan XIII Koto Kampar Kecamatan Kampar. “sedangkan penelitian penulisan mengenai “Metafora dan Perumpamaan (Studi Analisis dalam Teks Pidato Bidang Pendidikan Gubernur Riau Periode 2008-2013).” Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian penelitian Iwan Saepudin yaitu gaya bahasa yang dibahas hanya sekedar  menemuan saja dalam Nazam Nabi Muhammad lahir dan tidak dianalisis. Sedangkan penelitian penulis mendeskripsikan dan menganalisis gaya bahasa yaitu metafora, perumpamaan, dan tema dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau periode 2008-2013.
            Kedua, Siti Aisyah mahasiswa FKIP UIR tahun 2006 dengan judul “Kemampuan Berpidato Siswa Kelas II Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar  Tahun  Pelajaran 2005/2006”. Penelitian Siti Aisyah hanya mengkaji suatu masalah, yaitu bagaimana kemampuan pidato siswa kelas II Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar. Teori yang digunakan yaitu teori Arsyad(1998), Nurgiantoro(2001), Badudu (1998), Halim (1974), Sudjono (1999), sedangkan penelitian Siti Aisyah menggunakan metode observasi, tes, dan deskriptif. Hasil penelitian Siti Aisyah yaitu kemampuan pidato siswa kelas II Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Kecamatan Banginang Kabupaten Kampar mengandung bebrerapa kemampuan diantaranya pertama, kemampuan ketetapam ucapan siswa kelas II Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar tahun ajaran 2005/2006 tergolong baik.Hal ini terlihat dari rata-rata kemampuan ketepatan ucapan yang diperoleh adalah 4,37. Kedua, kemampuan ketepatan sasaran siswa kelas II  Madrasyah Aliyah Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar tahun pelajaran 2005/2006 tergolong baik.Hal ini terlihat dari rata-rata kemampuan ketepatan sasaran yang diperoleh adalah 4,23. Ketiga, kemampuan menggunakan kosa kata siswa yang diperoleh adalah 4,31. Keempat, kemampuan kelancaran siswa kelas II Madrasyah Aliyah Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar tahun pelajaran 2005/2006 tergolong baik. Hal ini terlihat dari rata-rata kemampuan kelancaran yang diperoleh adalah 4,63. Persamaan penelitian penulis dengan penelitian Siti Aisyah yaitu sama-sama membicarakan masalah pidato. Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian Siti Aisyah yaitu pidato yang di bahas mengenai kemampuan pidato siswa kelas II Madrasyah Aliyah Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar. Sedangkan penelitian penulis mengenai “Metafora dan Perumpamaan (Studi Analisis dalam Teks Pidato Bidang Pendidikan Gubernur Riau Periode 2008-2013)”.
            Ketiga,Hasni mahasiswa FKIP UIR tahun 2010 dengan judul “Analisis Makna dan Gaya Bahasa dalam Naskah Cerita Randai Bapak Sagiro di Desa Teratak Air Hitam Kabupaten Kuantan Singingi”. Penelitian Hasni mengkaji dua masalah, yaitu makna apa sajakah yang terdapat dalam naskah cerita Randai Bapak Sagiro di Desa Teratak Air Hitam Kabupaten Kuantan Singingi dan gaya bahasa apa sajakah yang terdapat dalam naskah cerita Randai Bapak Sagiro di Desa Teratak Air Hitam Kabupaten Kuantan Singingi. Teori yang digunakan yaitu teori Tarigan (1985), Keraf (2000), dan Pateda (2001) sedangkan Penelitian Hasni menggunakan metode observasi,wawancara,heuristic, dan analisis teks. Hasil Penelitian Hasni yaitu makna yang terdapat dalam naskah cerita Randai Bapak Sagiro di Desa Teratak Air Hitam Kabupaten Kuantan Singingi yaitu denotasi dan makna kiasan.Gaya bahasa yang terdapat dalam naskah cerita Randai Bapak Sagiro di Desa Teratak Air Hitam Kabupaten Kuantan Singingi ini terdapat empat gaya bahasa yaitu gaya bahasa repetisi,gaya bahasa anafora,gaya bahasa perulangan(antanaklasis),dan gaya bahasa alegori.Persamaan penelitian penulis dengan penelitian Hasni yaitu sama-sama membicarakan masalah gaya bahasa dan makna.Perbedaan penelitian penulis cengan penelitian Hasni yaitu gaya bahasa yang dibahas oleh saudara Hasni itu hanya sekedar menemukan gaya bahasa yang terdapat di dalam Randai bapak Sagiro tersebut,disini penulis membahas gaya bahasa dengan cara menemukan dan dianalisis. Sedangkan penulis mengkaji makna itu,dari gaya bahasa yang didapat dianalisis apa makna yang tersembunyi dalam gaya bahasa/ungkapan tersebut. Penelitian Hasni itu mengenai “ Analisis Makna dan Gaya Bahasa dalam Naskah cerita Randai Bapak Sagiro di Desa Teratak Air Hitam Kabupaten Kuantan Singingi” sedangkan penulis “Metafora dan Perumpamaan (Studi dalam Teks Pidato Bidang Pendidikan Gubernur Riau Periode 2008-2013)”. Dengan tiga masalah yaitu apa sajakah metafora yang terdapat dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau Periode 2008-2013,apa sajakah perumpamaan yang terdapat dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau Periode 2008-2013,dan apakah tema-tema yang terdapat dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau Periode 2008-2013.

             


1.1.2        Masalah
Masalah yang akan teliti dalam penelitian ini adalah:
1.      Apa sajakah metafora yang terdapat dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau periode 2008-20013?
2.      Apa sajakah perumpamaan yang terdapat dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau 2008-2013?
3.      Apakah tema-tema yang terdapat dalam teks pidato Gubernur Riau 2008-2013?

1.1.3        Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk melestarikan dan memperkaya pengetahuan mengenai warisan wacana  lisan yang telah diuji kebenarannya. Penelitian ini tentang “Metafora dan Perumpamaan (Studi Analisis dalam Teks Pidato Bidang Pendidikan Gubernur Riau Periode 2008-2013)”.
Secara khusus penelitian ini bertujuan:
1.      Untu mendeskripsikan metafora yang terdapat dalam tes pidato pendidikan Gubernur Riau.
2.      Untuk mendeskripsikan perumpamaan yang terdapat dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau.
3.      Untuk Mendeskripsikan tema yang terdapat dalam teks pidato pendidikan Gubernur Riau.



 KESIMPULAN
Pidato dapat dijadikan pedoman dalam penguasaan bahasa. Tentunya penguasaan bahasa pidato tidak terlepas dari arti/maksud pidato, tingkat variasi bahasa pidato, dan tujuan teks pidato tertentu. Bagian dari hal-hal yang diharusan di atas, tentu ditekan juga pada penyampaian teks pidato yang dilakukan secara jelas, terarah, dan sesuai dengan pesan pidato yang diinginkan. Pidato itu terbentuk dikarenakan adanya retorika. Menurut Suhandang (2009:25), “Istilah Retorika dapat ditemukan dalam perbendaharaan kata bahasa Inggris dengan kata rhetoric yang berarti kepandaian berbicara atau pidato.” pidato yang biasanya pidato itu diifomasikan pada pendidikan maupun masyarakat luas. Oleh karena itu,  pidato Gubernur Riau mengunakan bahasa sederhana supaya dimengerti oleh khayalan ramai. Pidatu Gubernur Riau dibuat oleh team bagian pidato di Hubungan Masyarakat Sekretaris Daerah Provinsi Riau. Pidato pendidikan secara bahasa menggunakan metafora dan perumpamaan. Karena kata-kata itu digunakan untuk memperindah teks pidato dan tidak memnggubah maksud / pesan pidato yang disampaikan. Maka, dilihat dari segi mamfaat pidato itu dapat dijadikan renungan dalam kehidupan bermasyarakat.


JESSY SUSANTI              VIVIN HERLINA                 NENTY SONALITA
116210014                         116211053                              116211043




Sabtu, 14 Januari 2012

Cerpen

Cerpen
Keluarga Menjual Jus Buah Demi Kebutuhan
Ibu Iis Salihat adalah salah satu pedagang yang berjualan Jus buah  di Surya Baru 2  atau bisa juga di sebut Ampera Ummy.Ibu Iis kelahiran tahun 1985, Ibu Iis memiliki 2 orang anak.anak 1 benama Nadin Maharani berumur 5 tahun dan Muhammad Raffi Asrab berumur 2 tahun setengah.Ketika saya bertanya mengapa Ibu Iis memilih profesi ini , ia mengatakan karena bahan baku yang harus dibeli dan diperoleh tidaklah sulit , selain tidak repot juga tidak mudah rusak . Selain Jus Alpukat , Jus Jeruk , dan Jus Terong Belanda,

P : Pertanyaan
A : Jawaban Ibu Iis
P : Buk kenapa memilih tempat berjualan di Surya Baru 2  ?
A : Karena tempatnya gak terlalu jauh dari rumah saya.
P : Buk kenapa milih jadi penjual jus buah ?
A : Karena bahannnya mudah dicari dimana-mana,dan tidak mudah rusak,dan juga tidat  repot,kalau jualan mie harus beli minyak juga , dan harga minyak naik terus , makanya saya tidak mau pusing-pusing mikirin harga minyak yang naik terus makanya saya berfikir lebiah berjualan jus saja.
P : Ibuk berjualan ini cukup tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ?
A : Dibilang cukup lumayan lah ..
P : Buk , apakah Ibuk sudah berkeluarga ?
A : Sudah , saya memiliki satu suami dan dua anak .
P : Apakah penghasilan Ibuk dapat mencukupi kelurga ? bisa nabung tidak buk ?
A : Lumayan cukup , masih bisa nabunglah dikit-dikit
P : Ibu ada hambatannya apa saja?
A :Kalau hujan saja jadi jarang yg beli,,soalnya kan dingin jadinya pelanggan jadi berkurang,,tidak mungkin kan dingin-dingin minum yang dingin-dingin.
 P : Sekali belanja berapa kilo buk untuk sekali berjualan ?
A : Kalo alpukat 2 kg , Jeruk 2 kg , kalo Terong Belanda 1kg,
P : Suka dukanya berjualan ini apa bu?
A : Sukanya kalau lagi laris , saya senang sekali karna bisa dapet penghasilan lebih , dukanya kalo lagi tidak laris penghasilan saya jadi berkurang
Dari hasil wawancara saya dengan Ibuk Iis yaitu salah seorang pedagang jus buah Di jalan Surya Baru 2(Ampera Ummy) kita dapat banyak Mengambil kejadian-kejadian hidup yang dialami tiap-tiap orang selalu berbeda-beda . Namun dari banyak perbedaan tersebut ada satu kepastian adalah setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan , namun tingkat kesulitan tiap orang itu selalu berbeda pula . Dari cerita diatas saya akan lebih menonjolkan sisi-sisi kehidupan dan bagaimana kita harus mengatasi kehidupan yang begitu berat ini .
Seperti Ibuk Iis , ia memilih profesi sebagai pedagang jus buah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya , walaupun terlihat mudah namun dalam menjalani hari-harinya sebagai pedagang jus buah pun mengalami kendala dan hambatan seperti yang dikatakannya ia dapat mengalami kerugian apabila hujan turun karena dengan hujan banyak  yang tidak dapat membeli jus buahnya sehingga dapat dikatakan jualannya tidak laris .
Kadang dalam menjalani hidup ini kita tidak jarang menemukan hambatan dan rintangan , namun dengan hambatan dan rintangan tersebut tidak boleh kita jadikan alasan untuk tidak dapat mencapai sesuatu yang kita inginkan melainkan harus bisa menjadikan kita sebagai motivasi dalam hidup untuk dapat lebih maju meraih apa yang belum dapat kita raih sebelumnya dengan usaha dua kali lipat bahkan lebih .
Dan juga selain berani memotivasi hidup kita , kitapun harus berani menaruh kepercayaan  kepada diri kita sendiri bahwa kita pasti bisa dan dapat mewujudkan mimpi-mimpi kita tersebut.
     Maka dari itu sekarang kita mengetahui betapa sulitnya mencari uang , maka hikmah yang dapat saya ambil dari cerita diatas adalah hargailah uang dan berikanlah kepada orang yang membutuhkan dengan tulus apabila kita berlebih .




Sabtu, 07 Januari 2012

Ringkasan Mata Kuliah Linguistik Umum

Mata Kuliah Linguistik Umum


Cabang-cabang linguisti:
1.      fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa.
2.      Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk bahasa.
3.      Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari kelompok-kelompok kata atau kalimat.
4.      Semantik adalah ilmu yang mempelajari makna bahasa.
5.      Leksikologi adalah ilmu yang mempelajari asal kata bahasa.
6.      Paragmatik adalah ilmu yang mempelajari penyimpangan bahasa.
7.      Psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa dalam hubungan dalam masyarakat.
8.      Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa dengan akal budi manusia.
9.      Dialektologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa tentang dialek dan batas-batas dalam suatu wilayah tertentu.
10.  Wacana adalah ilmu yang mempelajari bahasa tentang paragraf.
11.  Retorika adalah ilmu yang mempelajari bentuk gaya bahasa.
12.  Stalistika adalah ilmu yang mempelajari tentang gaya bahasa dalam karya sastra.
Afiksasi
1. Afiks

            Imbuhan (afiks) adalah suatu bentuk linguistik yang di dalam suatu kata merupakan unsur langsung, yang bukan kata dan bukan pokok kata. Melainkan mengubah leksem menjadi kata kompleks, artinya mengubah leksem itu menjadi kata yang mempunyai arti lebih lengkap, seperti mempunyai subjek, predikat dan objek. Sedangkan prosesnya sendiri di sebut afiksasi (affixation). Imbuhan (afiks) adalah Bentuk (morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata.
            Pada umumnya imbuhan (afiks) hanya dikenal ada empat, yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), awalan dan akhiran (konfiks). Dalam sumber lain disebutkan bahwa imbuhan (afiks) itu ada sembilan, yaitu prefiks, infiks, sufiks, simulfiks, konfiks, superfiks, interfiks, transfiks, dan kombinasi afiks.
2. Afiksasi
            Ialah proses pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik berupa satuan tunggal maupun kompleks untuk membentuk kata.
Contoh:
            ber- padaLARI - berjberlari
            me(N)- pada runcing - meruncing
            -an pada pakai – pakaian.
3. Macam-macam Afiksasi:
1.prefiks,
2.sufiks,
3. infiks
4.konfiks,
5. gabungan afiks,
6.Simulfiks,
7.Superfiks,
8.Interfiks
9. Transfiks )

1. Prefiks (Awalan)

            Ialah afiks (imbuhan) yang ditempatkan di bagian muka dasar (mungkin kata dasar atau kata kompleks/jadian).
Contoh:
ber - -berjalan, bermain
di- -ditulis, dibeli, dipukul
meN- -menulis, membaca, mempertahankan
ter- -terpilih, terbawa

2. Sufiks (Akhiran)
            Ialah morfem terikat yang digunakan di bagian belakang kata atau dilekatkan pada akhir dasar.
Contoh:
-an -makanan, mainan
-kan -ambilkan
-man, -wati _seniman, seniwati
3.Infiks (Sisipan)
            Ialah afiks yang diselipkan atau dilekatkan di tengah kata dasar.
Contoh:
-el, -geletar,
-em, -gemetar,
-er, - gerigi
-in -kinerja
4. Konfiks
            Ialah gabungan prefiks dan sufiks yang dilekatkan sekaligus pada awal dan akhir dasar.
Contoh:
ber – an -berdatangan, berhamburan
ke—an -keuangan, keahlian
per—an -perjuagan, pertemuan
se—nya -sebaik-baiknya, sebesar-besarnya

5.Gabungan Afiks
            Ialah gabungan prefiks dan sufiks yang ditambahkan pada kata dasar tidak sekaligus.
Contoh:
ber—an -berpakaian
-pakai_pakaian berpakaian
member—kan -memberlakukan
laku_ berlaku_ berlakukan _memberlakukan
6. Simulfiks
            Ialah afiks yang disamakan dengan ciri-ciri segmental yang dileburkan pada kata dasarnya. Biasanya di samakan dengan nasalisasi dari fonem pertama suatu bentuk dasar, dan fungsinya ialah membentuk verba atau memverbakan nomina, adjectiva atau kelas kata yang lain menjadi kata kerja.
Contoh:
Kopi → ngopi
Sate → nyate
Kebut → ngebut
Tulis → nulis
7.Superfiks atau suprafiks
            Superfiks atau suprafiks adalah afiks yang dimanifestasikan dengan ciri-ciri suprasegmental atau afiks yang berhubungan dengan morfem suprasegmental
Imbuhan superfiks dapat kita jumpai dalam bahasa-bahasa daerah, superfiks itu sama halnya dengan bahasa dialek yang hanya di miliki oleh daerah tertentu.
Contoh :
Suwe → lama
Wedi → akut
Biti → kecil
Malampo → gemuk.
8. Interfiks
            Interfiks yaitu suatu jenis infiks yang muncul di antara dua unsur. Dalam bahasa indonesia interfiks terdapat pada kata-kata bentukan baru, misalnya: interfiks –n-dan -o-.
Contoh:
indonesia-logi → indonesianologi
jawa-logi → jawanologi.

9. Transfiks
            Transfiks yaitu jenis infiks yang menyebabkan kata dasar menjadi terbagi-bagi. Bentuk ini terdapat dalam bahasa-bahasa Afro-Asiatika, antara lain dalam bahasa arab.
Contoh:
nshr -a-a, → nashara
dzhb-a-a → dzahaba.